Sejarah & Budaya

Kaca dalam Arsitektur: Bangunan yang Mengubah Cara Kita Memandang Kaca

Dari Crystal Palace sampai piramida Louvre: bangunan terkenal yang membuktikan bahwa kaca bisa menjadi struktur, bukan hanya jendela.

Kaca dalam Arsitektur: Bangunan yang Mengubah Cara Kita Memandang Kaca
Daftar isi
  1. Crystal Palace, London (1851)
  2. Farnsworth House dan Glass House (akhir 1940-an hingga 1950-an)
  3. Gedung pencakar langit dan curtain wall
  4. Piramida Louvre, Paris (1989)
  5. Kaca sebagai struktur
  6. Pelajaran untuk rumah kita

Kaca mulai dari sekadar penutup lubang jendela, lalu berkembang menjadi elemen utama yang menentukan wajah bangunan. Beberapa karya berikut sering dijadikan rujukan.

Crystal Palace, London (1851)

Dirancang Joseph Paxton untuk Pameran Dunia, bangunan dari besi dan ratusan ribu lembar kaca ini menunjukkan bahwa kaca bisa dirakit cepat dalam modul. Ia membuka jalan bagi rumah kaca, stasiun, dan pasar berkubah kaca di seluruh dunia.

Farnsworth House dan Glass House (akhir 1940-an hingga 1950-an)

Mies van der Rohe dan Philip Johnson merancang rumah dengan dinding hampir seluruhnya kaca. Pesannya sederhana: batas antara dalam dan luar boleh nyaris hilang. Gagasan itu sekarang kita lihat pada pintu geser kaca besar dan dinding kaca di rumah modern.

Gedung pencakar langit dan curtain wall

Sistem curtain wall menggantung kulit kaca di luar rangka struktur. Dengan begitu gedung tinggi bisa berpenampilan ringan dan terang. Perkembangan kaca tempered, laminated, dan insulated membuat fasad seperti ini aman dan hemat energi.

Piramida Louvre, Paris (1989)

Karya I. M. Pei ini memakai kaca ultra bening supaya bangunan baru terlihat ringan di depan istana tua. Contoh bagus tentang mengapa kaca dengan kandungan besi rendah dicari. Baca Kaca ultra clear (low iron).

Kaca sebagai struktur

Hari ini kaca laminated dengan interlayer kuat dipakai sebagai lantai, tangga, balok, bahkan jembatan pejalan kaki. Lihat Kaca untuk lantai dan tangga dan Interlayer PVB dan SGP.

Pelajaran untuk rumah kita

  • Cahaya alami membuat ruangan terasa lebih luas.
  • Kaca besar menuntut ketebalan, tepi, dan hardware yang tepat.
  • Panas matahari harus dikelola, terutama di iklim tropis seperti Indonesia.
Masih ragu memilih yang tepat?

Konsultasi dan survei lokasi gratis di Surabaya dan sekitarnya.

Chat WhatsAppTanya langsung ke kami